Tampilkan postingan dengan label guruku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guruku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Dunia Guru

"Guru Bukan Segalanya Tapi Segalanya Berawal Dari Guru" sebuah kutipan yang menarik dari seorang yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan


Dunia Guru saat ini sudah tak pantas lagi disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”. Sebab pada kenyataannya berbagai kesejahteraan terus diupayakan dengan dalih demi peningkatan kualitas pendidikan. Logika materialisme yang begitu kuat sebenarnya menjadikan posisi guru itu sendiri berada dalam kondisi sebuah dilema. Alih-alih profesionalitas, kesejahteraan terus ditingkatkan. Tapi di sisi lain muncul permasalahan sosial di mana dunia guru dipandang sebagai dunia yang menjanjikan secara materi. maka banyak masyarakat yang kemudian berbondong-bondong meminati dunia guru dengan niatan yang bisa dipertanyakan antara keikhlasan membangun sebuah bangsa lewat pembelajaran atau demi kesejahteraan semata di tengah kepungan ekonomi global yang kian krisis dimensial. 

Tapi ibarat perut yang kelewat kenyang. Rasa berkecukupan pun mulai menyerang. Penyakit kerja malas-malasan pun datang. Jelas, dengan kesejahteraan yang meningkat tidak serta-merta kualitas pembelajaran pun meningkat. Justru berbeda dengan lampau ketika eksistensi guru dimaknai sebagai pembawa pesan moral yang ikhlas dalam bekerja, eksistensinya banyak melahirkan generasi-generasi pemikir bangsa. contohnya HOS Cokroaminoto yang melahirkan Soekarno. Guru-guru di jaman sekarang bisa jadi turut ambil bagian dalam melahirkan koruptor-koruptor muda.


Keteladanan guru pun layak dipertanyakan ketika ada oknum dalam Dunia Guru yang dengan tanpa perasaan berdosa membuat data palsu demi lulus portofolio untuk sertifikasi. Mengapa demikian karena ada tuntutan materialisme yang menguat. Itu pulalah ekses dari profesionalitas di sisi lain bahwa Dunia Guru menjadi berorientasikan materi.. 


Sekarang Dunia Guru adalah hal yang diminati masyarakat, karena dianggap menjanjikan kesejahteraan. Yang pada akhirnya membanjirlah kualitas-kualitas guru bermental materi bukan moral dan hati nurani.

Jangan heran jika di masa sekarang kita bisa melihat anak-anak didik berunjuk rasa, karena mereka pun menyaksikan para pendidik mereka berunjuk rasa di jalan. Saat ini sepertinya bukan saatnya lagi guru harus dianggap sebagai sosok yang sangat berkuasa dan harus ditakuti oleh anak-anak didiknya di sekolah. Bila kita menjumpai ada anak-anak didik kita berkata-kata kasar, berperilaku negatif, tidak jujur, pemberontak, menyakiti hati temannya, memfitnah maupun menjatuhkan temannya, tidak bisa menghargai sesamanya bahkan gurunya, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah bertanya kepada hati kita apakah kita melakukan hal yang serupa?.

Sudahkah Anda berpuas hati dengan prestasi sebagai guru . . . ?



»»  Baca Selengkapnya ...

Rabu, 21 Maret 2012

Menjadi Guru Profesional

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. 
profesional, berarti ahli dalam bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya, Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personaliti.dan profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang dipadupadankan dengan skil atau keahliannya.

Dan apakah semua guru sudah profesional seperti kriteria diatas, . . .?  lalu bagaimana dengan guru yang hanya mengajar, mengikuti training, mengikuti pelatihan demi untuk memenuhi kredit kenaikan pangkat dan sertifikasi . . . ?

Guru dengan mentalitas pendidik yang mumpuni, adalah tuntutan dalam dunia pendidikan. Jadi, bukan hanya menjadi dambaan lembaga sekolah. Murid pun menganggapnya sebagai ‘guru favorit’.

Jika demikian lalu bagaimana untuk mewujudkannya?
Menjadi guru mungkin semua orang bisa. Tetapi menjadi guru yang memiliki keahlian dalam mendidikan atau mengajar perlu pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai. Dalam kontek diatas seorang guru minimal memiliki;

• skill/keahlian dalam mendidik atau mengajar
• kemampuan intelektual yang memadai
• Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan
• Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau metodelogi pembelajaran
• Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan
• Kemampuan mengorganisir dan problem solving
• Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik

Itu baru kriteria nya banyak hal lagi yang harus dipelajari oleh seorang guru, karena intinya
Menjadi Guru adalah belajar yang tak berujung dan menjadi guru tentunya tidak boleh berhenti belajar. sebagai suatu proses yang tiada henti untuk menjadi lebih baik,melalui perbaikan yang berkesinambungan

Karena 
Menjadi Guru Profesional adalah Guru yang cerdas yang senantiasa mau belajar mengenai ilmunya dan bagaimana belajar menjadi guru yang lebih cerdas. , peduli terhadap perkembangan pendidikan di lingkungannya, haus berdikusi, peka terhadap masalah yang muncul, selalu bertanya `Mengapa ?` dan sekaligus mencari tahu jawabannya, alias mengembangkan penelitian, dan …. selalu merasa tidak cerdas.

inti nya
Menjadi Guru Profesional  selalu belajar bagaimana Menjadi Guru Profesional dan selalu merasa belum Menjadi Guru Profesional,

bingung kan . . . ?
salam,
semoga bermanfaat
»»  Baca Selengkapnya ...

Kamis, 15 Maret 2012

Guru ku

Guru Ku kau bukanlah segalanya, namun segalanya berawal dari Guru.

Guru ku (digugu dan ditiru) sebuah peran yang membuat seseorang menjadi figur teladan bagi anak-anak didiknya, bahkan bagi masyrakat sekitar tempat ia tinggal,


Melihat peran Guru Ku, sudah menjadi keharusan bahwa guru ku harus memiliki integritas dan personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya mengajar (transfer knowledge) tetapi juga menanamkan nilai - nilai dasar dari membangun karakter atau akhlak anak.

guru ku adalah operator kurikulum pendidikan. Ujung tombak pejuang pengentas kebodohan. Bahkan guru ku adalah mata rantai dan pilar peradaban dan benang merah bagi proses perubahan dan kemajuan suatu masyarakat atau bangsa.

Walau kadang dalam perjalanan guru ku  ada tuntutan-tuntutan hidup yang terkadang sedikit mengotori niat tulus itu. Meskipun ada balas jasa yang ia terima, tidak akan cukup membayar jerih payahnya dalam mendidik anak-anak didiknya menjadi pribadi yang mulia.
Namun Sang Maha Pengasih tidak akan pernah salah menghitung tiap amal hamba-Nya.
Amin....

(celoteh untuk  guru ku dan mereka yang mendedikasikan hidup nya untuk pendidikan)


»»  Baca Selengkapnya ...

Tipe Guru

Buat yang masih sekolah atau kuliah mungkin dibawah ini ada salah satu tipe guru yang megajar disekolah kita bukan buat untuk mengolok tapi kadang realita itu memang terjadi disekolah atau dikampus diambil dari tulisan Bapak Mustafa Kamal di guraru.org  diposting lagi disini biar ga lupa aja buat baca sekalian instropeksi 


Tipe Guru yang Pertama
di juluki guru “ G” alias Google Maniak kok.. Gaptek ya?
Guru ini dari perangkat mengajarnya jelas adalah copy paste perangkat guru lain dari sekolah lain, atau hasil dari searching dengan google karena dibawahnya ada nama sekolah lain bukan sekolah kami (lupa ngapus kali ya..atau tak tau caranya hehe…)……terus ..media power point yang digunakan dalam pembelajaran adalah hasil download juga karena nama pembuatnya tertera disana tentunya bukan nama dia….dan yang ditampilkan materinya nggak nyambung dengan materi yang dia bawakan waktu itu….! sepertinya ini guru cari aman saja, jika ditanya perangkat? jawab ada, ada buat media? jawab ada. Mengerti cara buatnya…..Entah….! pernah saya sedikit usil meminta guru tersebut memperbesar gambar dalam media power point itu….dan jawabnya adalah : tidak bisa pak, laptop ini programnya 2007 pak? saya buatnya di program 2003! ooo…..
Akhirnya saya mengangguk2 geli dan bertanya dalam hati….”trus perangkat dan media ini darimana ya…..!” Dari cara mengajarnya saya liat adalah dengan membaca saja apa yang tertulis di media tersebut, kemudian catat …tanpa ada penjelasan lebih lanjut! Kelas hening hingga akhir…..Good!


ibu guru ini sudah tidak muda lagi, sudah 45 tahun. Mungkin wajar kurang pandai mengoperasikan komputer karena dizaman dia kuliah belum mengenal yang kayak gini. Mungkin dia upah orang lain untuk ini semua. Tapi sebagai guru kita harus berkembang setiap hari, tidak boleh stagnan. tidak boleh jalan ditempat! kita harus mengikuti perkembangan teknologi! Berat memang….


Tipe Guru kedua, di juluki si ”O” alias Omdo/Omong2 Doank…
Pak guru ini Tipe guru santai, masih muda baru 33 tahun! Ditanya perangkat tidak ada, Masih pakai yang lama katanya …perangkat lusuh tujuh tahun yang lalu seperti tertera di cover TP 2003/2004! Ditanya media, waduh…..tak sempat pak..lupa nanti pasti saya buat pak! beliau ini tidak bawa buku paket ke kelas, hanya bawa spidol saja…hebaat!
Mengajarnya rame memang, penuh dengan Omongan, Kosong materi, Cerita kesana kemari, Materi hanya garis besar saja! Papan Tulis lumayan bersih hanya judul dan panah -panah bercabang 5 sub bab materinya! Luar biasa bapak ini cocoknya jadi dosen saya saja! heheheee….
Beginikah kita menghadapi siswa??? mereka bukan mahasiswa lho pak? Olalala…..


Tipe Guru ketiga guru yang mengajar Matematika saya juluki si “B” alias Beringas!
Alhamdulillah, perangkat pembelajarannya lengkap dan rapi! Hari itu rumus yang diturunkan panjang sekali dan sepertinya lagi berbicara dengan papan tulis. Siswa-siswi saya perhatikan mulutnya terngangak! alis ngantuk…..! ketika guru itu berbalik, dan siswa tadi keperegok menguap! Doni, cuci muka sana! ” hardik guru ini. Dan beliau kemudian berceramah panjang lebar! marah-marah! kamu ini…..kalo begini…maka…..dengan tangan diacung2 kan seperti sedang orasi partai!
Saya menerawang jauh ke guru matematika saya zaman dulu. Galaknya persis sama….! Apa nggak ada ya guru matematika yang ramah…..humoris….sampe sekarang…ampuuuuuun…….!
Ketika siswa diminta maju kedepan untuk mengerjakan soal, hanya satu orang saja yang maju. soal-soal berikutnya siswa itu lagi….dan soal setelah itu, siswa itu lagi…dan soal terakhir lagi-lagi siswa itu! yaaaach……


Tipe Guru ke-empat, di juluki guru ” L” alias LKS berjalan…..
Ya, Perangkat pembelajaran persis dengan LKS, bolehlaah….media ya LKS itu laaah!
Proses pembelajaran adalah Diskusi dan mengisi LKS, kemudian dikumpulkan dan ditanda tangani! Jangan lupa ringkas LKS nya ya anak-anak ….! minggu depan catatan nya ibuk periksa, okey! …..materi LKs sudah ringkas, diringkas lagi……Hahay…..!


Tipe Guru ke-lima, di juluki si ” O” lagi, yaitu : Otaknya sedikit Ngeres….
Bapak ini suka jalan-jalan keliling dalam kelas, ramah memang (ramah=rajin menjamah) siswi cantik….! Sambil bergurau masih sempat tangannya dibahu siswi yang cantik dikelas itu sambil berkata” coba Desi, kamu kedepan tuliskan jawaban mu? …….Saya perhatikan matanya “Nakal” memang……! Siswi tadi berusaha dengan kikuk menghindarkan tubuhnya…….lalu Bapak ini beralih ke siswi lain…..Menusuk kan telunjuknya ke pinggang seorang siswi……..”Kamu, Dah siap belom! teriaknya! Siswi tadi terkejut, tentunya geli sambil teriak “Bapak, nie!!!!
Waduh…..Memang sepintas lalu Siswa siswi akrab dengan bapak yang satu ini, karena suka bergurau dan melempar anekdot dikelas, kadang anekdotnya pon kadang ada unsur “hot” nya juga…….Gaya menjelaskannya okelah, tapi…….


Tipe Guru ke-enam, dijuluki guru “K” alias Kutu Buku, Catat Sampai Habis
Guru ini suka duduk manis di depan, sambil mendiktekan materi pembelajaran, dan siswa/i nya mencatat. Setelah selesai, siswa/i didiktekan soal-soal…….kerjakan, kumpul lalu pulang….


Itulah tipe guru disekolah,
Saya tidak tau masuk tipe yang mana,
bagaimana dengan anda ?????
»»  Baca Selengkapnya ...

Selasa, 13 Maret 2012

Guru yang Baik dan Disukai

Ciri-ciri Guru yang Baik dan Disukai


guru yang baik guru yang disukai bukan perkara mudah tapi juga tidak sulit, Namun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Jadi bukan soal sifat guru tersebut tapi soal kemampuan mengatur irama pembelajaran. 
Guru yang baik pun akan cepat marah jika muridnya sering berlaku tidak tertib. Salah satu hal yang membuat siswa tertib adalah kesibukan yang bermakna. Membuat siswa bisa sibuk namun tetap bermakna memang tantangan semua guru. Ada guru yang senang memberi soal sulit pada siswanya dengan harapan siswanya sibuk dan waktu mengajar dia tidak dipusingkan oleh masalah perilaku.
Padahal sebaliknya hal tadi hanya terjadi pada siswa yang perilakunya memang sudah baik, sementara anak-anak yang lain akan cepat bosan dan justru membuat ulah karena merasa gurunya memberi pekerjaan sulit tanpa jalan keluar. Karena pekerjaannya sulit membuat anak -anak yang memang sudah bermasalah pada perilaku akan timbul lagi keinginannya untuk membuat keributan dan ujung-ujungnya guru akan merasa gagal dalam mengajar siswanya di hari itu.
Ada beberapa cara untuk membuat jam pelajaran anda berlalu tanpa terasa baik kita sebagai guru maupun siswa sebagai penikmat cara mengajar dan perencanaan mengajar kita.
Siapkan minimal dua penugasan atau strategi saat mengajar, dijamin siswa akan sibuk sepanjang pelajaran
Berikut ini mungkin bisa menjadi acuan ;


masuk kelas lebih awal atau 5 menit lebih awal.
tebarkan senyum pada seisi kelas 1 berbagi senyum tulus pada semua siswa. Siswa yang dicap sebagai anak yang ‘bermasalah’ akan luntur dan akan menyukai anda jika anda berikan senyum pada mereka.
ucapkan salam dengan semangat saat akan mengajar
Ingat Jika sebagai guru berharap siswa anda hormat pada anda, silahkan terlebih dahulu menjaga harga diri siswa anda di kelas.
kurangi gaya ‘one man show’ saat mengajar, kurangi semangat untuk menceramahi siswa. Biarkan siswa juga berbicara di kelas, berbagi mengenai strateginya dalam mengerjakan soal yang anda berikan.
Tidak terlalu banyak melaksanakan metode ceramah
Memberikan contoh kepada siswa apa yang ia ingin siswa lakukan.
berbicara lah pada mereka dan bukan berteriak.
Memotivasi siswa dan bukan menyindir.
Menggunakan humor pada tempat dan saat yang tepat.
Mudah diajak berteman oleh siswa dan bukan menjadi teman siswa. Mudah diajak berteman artinya anda pihak yang pasif dalam berkomunikasi namun tetap dengan cara yang profesional. Berusaha menjadi teman siswa hanya akan menyulitkan situasi anda dikemudian hari.
Penyabar dan menganggap semua siswa sedang berproses. Hindari meneruskan warisan guru lain dengan melanjutkan cap yang sudah diterima oleh siswa tertentu.



»»  Baca Selengkapnya ...

Senin, 12 Maret 2012

Tips Mengajar

Tips mengajar :

Berpikir kritis dan usaha yang jujur lebih penting daripada jawaban yang benar. 
Cobalah untuk tidak mengerutkan kening ketika siswa memberikan jawaban yang salah atau keliru. 
Mengerutkan kening seringkali ditafsirkan sebagai bahasa isyarat penolakan yang dapat menghambat siswa untuk berpartisipasi dalam mengekspresikan pemikirannya. .
Tidak ada pengajaran tanpa pengendalian. Lebih baik Anda bersusah payah pada hari-hari awal masuk sekolah untuk menemukan cara-cara terbaik dalam mengelola kelas dan mendisiplinkan siswa, daripada Anda harus melakukan perjuangan berat sepanjang semester karena Anda tidak berhasil menemukan cara yang paling efektif dalam pengelolaan kelas.
Kadang-kadang hal terbaik untuk dilakukan adalah berhenti berbicara. Jika terjadi kebisingan di kelas, Anda tidak perlu berteriak-teriak meminta para siswa agar berhenti gaduh. Cobalah Anda berdiri di depan kelas dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kemudian tataplah mereka (khususnya siswa yang menjadi sumber keributan) dengan tetap tanpa menunjukkan ekspresi marah.
Cobalah lakukan kegiatan yang bervariasi dari waktu ke waktu. Dalam proses pembelajaran rutinitas dan terstruktur memang hal yang baik, tapi apabila hal ini terlalu banyak dilakukan dapat menyebabkan Anda dan kelas Anda jatuh terjerembab ke dalam suatu kebiasaan yang membosankan.
Mendorong siswa untuk bepartisipasi aktif. Berikan kesempatan kepada setiap siswa untuk tampil di depan kelas atau mempersilahkan mereka untuk bekerja dalam kelompok. Sedapat mungkin hindari pembelajaran yang berpusat pada guru untuk sepanjang tahun.
Cobalah untuk bersikap fleksibel. Misalnya, pada saat berlangsung proses pembelajaran di kelas, Anda punya aturan ketat terhadap siswa tentang permen karet. Tetapi mungkin Anda dapat memejamkan mata untuk hal ini ketika siswa sedang menghadapi ujian.
Cobalah uraikan secara jelas topik-topik apa yang akan diujikan. Anda tidak hanya cukup dengan mengatakan dan menyuruh siswa “Minggu depan ulangan, silahkan Pelajari Bab 6!”. Perintah dan penugasan semacam ini akan dirasakan membingungkan, terutama bagi para siswa yang kurang memiliki keterampilan belajar.
Meminta dukungan manajemen. Adalah penting untuk mendapatkan dukungan dari manajemen ketika Anda berhadapan dengan isu-isu sulit, terkait dengan proses pembelajaran yang Anda lakukan. Misalnya, meminta dukungan untuk mengadakan konferensi dengan para orang tua siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Berikan siswa kesempatan untuk mengikuti ujian. Jika seorang siswa selalu hadir dalam setiap pertemuan di kelas, namun karena satu dan lain hal dia tidak bisa hadir pada hari ujian, Anda seyogyanya dapat memberikan kesempatan kepadanya untuk mengikuti ujian susulan dan jangan membiarkannya lebih dari satu atau dua hari.
Gunakan teknik “Front Loading”. Para siswa cenderung lebih termotivasi untuk belajar pada awal masuk sekolah. Pada awal masuk sekolah, selain diajak meninjau kembali materi pada semester sebelumnya, secara garis besarnya siswa juga diajak untuk mengenal topik-topik yang hendak dipelajarinya selama satu semester ke depan
Ajarkan para siswa untuk memiliki keterampilan memecahkan masalah. Ketika siswa Anda memasuki dunia kerja atau terjun ke masyarakat, sudah pasti dia akan banyak berhadapan dengan berbagai masalah yang harus dia selesaikan dengan baik. Melalui pembelajaran yang Anda lakukan diharapkan para siswa akan terbiasa dan terampil dalam memecahkan aneka masalah yang dihadapinya..
Berikan penghargaan atas setiap hasil dan usaha belajar mereka. Penghargaan yang Anda berikan akan memberikan motivasi kepada para siswa untuk mengerjakan sesuatu lebih baik lagi
Lakukanlah yang terbaik dari diri Anda dan bersikap adillah kepada seluruh siswa, maka Anda akan mendapatkan rasa hormat dari mereka. Krisis kepercayaan kepada guru seringkali bersumber dari ketidaksanggupan untuk menampilkan yang terbaik kepada siswanya.
Motivator terbaik adalah menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Jangan lepaskan pembelajaran dari dunia nyata siswa, belajarkanlah mereka hal-hal yang berhubungan dan menyentuh langsung kehidupan mereka Misalkan guru Matematika ketika sedang membelajarkan tentang sistem metrik, mintalah kepada siswa membawa kertas karton kosong dan botol-botol dari dapur mereka, untuk dijadikan sebagai media pembelajaran.
Di sekolah-sekolah tertentu, adakalanya siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan (kelas unggulan). Hal ini membuat mereka lebih menonjol dibandingkan peserta lainnya. Di satu sisi, cara ini dapat memberikan kemudahan bagi guru untuk memberikan pelayanan pembelajaran secara homogen, namun di sisi lain juga dapat menimbulkan kecemburuan sosial.

Sumber:
Terjemahan dan adaptasi dari :
Gisele Glosser. Tips for New Math Teachers
»»  Baca Selengkapnya ...

Kamis, 01 Maret 2012

Guru masihkah digugu dan ditiru ...?

Guru digugu dan ditiru, peribahasa itu tidak berlaku  jika guru nya tidak layak untuk menjadi seorang pendidik,  masih banyak guru yang kurang menguasai materi yang akan diberikan, memakai bahasa yang kurang dimengerti anak didik, membuat suasana belajar tegang dan membuat murid tidak nyaman di dalam kelas dan masih ada yang senang dan  bangga dengan sebutan guru kiler, padahal itu sich cara-cara kuno ketika masih jadi Pahlawan tanpa tanda jasa kalau sekarang sudah jaman sertifikasi sudah ga jaman lagi guru naik sepeda ontel lha penjaga sekolah nya  saja sudah pakai motor dengan  sertifikasi diharapkan meningkatan kesejahteraan guru, sehingga  kualitas guru dalam mengajar dan mendidik semakin baik dan mungkin dibawah ini bisa jadi referensi untuk menjadi guru yang lebih baik yang diambil dari tulisan John Milthon Gregory. Tujuh Hukum Mengajar dan Apple for the teacher

Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.
Persiapkan bahan pelajaran dengan mempelajarinya berulang-ulang. Jangan mengandalkan bahwa kita sudah pernah mempelajarinya karena apa yang kita ketahui dahulu pasti sebagian sudah terhapus dari ingatan kita.
Carilah urutan yang logis dari tiap bagian dalam pelajaran yang dipersiapkan tersebut. Setiap pelajaran selalu berangkat dari pengertian-pengertian dasar yang sederhana baru ke tingkat pengertian yang tinggi. Pelajari urut-urutan yang logis dari pelajaran yang dipersiapkan tersebut sampai terwujud suatu pengertian yang dapat saudara uraikan dengan kata-kata sendiri.

Carilah analogi atau ilustrasi untuk mempermudah penjelasan fakta-fakta dan prinsip-prinsip yang sulit dimengerti oleh siswa. Khususnya prinsip-prinsip abstrak.
Carilah hubungan antara apa yang diajarkan dan kehidupan sehari-hari siswa. Hubungan-hubungan inilah yang akan menentukan nilai praktis penerapan dari pelajaran itu.
Gunakan sebanyak mungkin sumber referensi berupa buku-buku atau bahan-bahan yang sesuai, tetapi pahami dahulu sebaik-baiknya sebelum menyampaikan kepada siswa.
Harap diingat bahwa lebih baik mengerti sedikit, tetapi benar-benar mantap daripada mengetahui banyak, tetapi kurang mendalam.
Sediakan waktu yang khusus untuk mempersiapkan tiap pelajaran sebelum berdiri di depan kelas. Dengan persiapan matang, kita akan semakin menguasai pengetahuan dan gambaran apa yang diajarkan akan semakin jelas.
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya


Salam
Semoga bermanfaat
»»  Baca Selengkapnya ...